Welcome

Minggu, 27 Desember 2009

Cerpen 1

30 Menit

Debu jalanan tidak lagi menggila.Jam orang pulang kerja telah lewat empat jam yang lalu.Kios soto melintang ditrotoar.Penjaga toko buah yang mengangguk-angguk menahan kantuk demi memperpanjang waktu malam agar buahnya tidak layu.Angkot baris-berbaris membuat shaf vertikal sempurna dengan kernet-kernet yang esok hari harus sekolah berteriak-teriak menyebut kode nomor angkot masing-masing.
Aku dan Ky berjalan berdampingan sepulang dari tempat belajar bahasa Inggris.Mereka menyebutnya tempat les,aku menyebutnya sekolah.
Tema.Selalu ada tema dalam setiap pembicaraan kami.Entah itu lawan jenis,baju,teman lama yang akan segera menikah hingga situasi dikelas tadi.
Ky saat ini sedang merasa ragu untuk berkenalan dengan seorang pria.Ia merasa malu.Wajar katanya dan kataku.Kami wanita.
Hingga pembicaraan sampai dimana aku dan Ky menuturkan pandangan masing-masing tentang sosok laki-laki idaman.
‘Kalo gue mau pacaran sama pria,bukan sama cowok.’
Kebetulan iklan dengan semboyan seperti itu memang sedang in.
‘Bukannya milih-milih tapi emang harus milih’
‘Emang sekarang lo lagi pengen punya pacar ya ?’
‘Iya.Tapi yang serius.’
‘Sama.’
Umurku hampir dua puluh kalau Ky baru saja berumur dua puluh.
‘Udah nggak bisa tuh yang namanya milih cuma karena orangnya asyik terus lucu terus supel.Harus seimbang juga otaknya.Jangan cuma bisa nasihatin aja.’
‘Mmm.Bener tuh.’
‘Yang ada sekarang selalu berat sebelah.Udah pengen sih tapi dalem hati bilang jangan dulu deh.Sabar dulu,sabar.Sebentar lagi juga dapet yang bener-bener pas.’
‘Iya emang.Musti sabar.’
Titik akhir kami zebra cross.Aku melirik.Timer lampu merah mendekati akhir.
‘Berapa detik lagi ?’
‘Dua satu.Sana gih kalo mau nyebrang.’
‘Ya udah gue nyebrang ya.Daaaah!’
Kami berpisah disitu.Masih sempat aku melihat kerudung hitam Ky sebentar lalu berjalan lurus menyusuri jalan raya yang lenggang.Sedotan air mineral kukulum-kulum hingga pipih.Desakan klakson yang panjang dan banyak di depan sana menandakan macet yang panjang sepanjang trotoar depan plasa.Semua angkot kosong.
05.
07.
06.
07 lagi.
02.
05 lagi.
02 lagi.
06 lagi..
02 lagi.
05 lagi.
02 yang ketiga ini yang menjadi keputusan terakhirku.
Kode 02 adalah angkot yang menuju rumah.Tidak ada alasan khusus yang membuatku memilih angkot 02 ketiga ini.
Isinya hampir kosong hanya ada seseorang duduk di pojok.Menyatukan dahi dan lututnya rapat-rapat dan menutupi kepalanya dengan handuk olahraga.Aku duduk di kursi yang paling dekat dengan pintu namun harus bergeser agak kedalam waktu seorang bapak naik.
‘Alhamdulillah.’
Sahutan pelannya membuatku tersenyum.
Sepanjang perjalanan,penumpang naik dan turun hingga yang paling eksis adalah aku,seseorang dipojok tadi dan seorang ibu beserta anaknya yang duduk tepat dibelakang supir.
Aku merapat ke pojok,menyandarkan bahu pada kaca belakang angkot dan tepat bersampingan dengan seseorang tadi yang masih betah memeluk lutut.Aku menoleh saja ke jendela.Menyamakan pandangan mata dengan kecepatan aspal yang lantas seperti trademill.
Tak lama seseorang itu bergerak.Dia hidup.Dan dia laki-laki ternyata.Kutebak umurnya tidak jauh dariku.Memakai blue jeans,bersendal jepit dengan kaos ungu.Wajahnya lusuh menahan kantuk.Posisinya berubah,menyandarkan bahu di jendela belakang persis seperti apa yang aku lakukan.Sempat selama setengah detik mata kami berpapasan.Dan aku seperti melihat seseorang yang belum pernah tahu bagaimana rasanya tidur.
Kusenderkan kepala ini ke jendela belakang.Kulirik laki-laki itu dan ternyata ia pun mengambil posisi demikian terlebih dahulu.Lantas aku melipat kaki kiri dibawah kaki kanan dan ia melakukannya juga.Kulihat tangannya terkait dipangkuan dan aku lantas melipat tanganku juga.Mata melirik ke jalanan.
Bosan.
Aku melirik sedikit ke arahnya.Posisinya masih persis sama sepertiku.Handuk olahraganya tersampir di bahu dan matanya menatap langit-langit angkot.
Dan pikiranku macam-macam.Terlalu kebetulan ataukah aku terlalu ambil pusing.
Namun bukannya tidak mungkin pria yang aku cari adalah laki-laki kecapekan yang berpose sama denganku ini.
Pikiran liarku kalah oleh unsur kebetulan semata.
Namun akhirnya pejalanan pulangku malam itu adalah menerka.Menerka apa yang dipikirkan oleh laki-laki kecapekan itu.
Seorang ibu yang membawa anak yang duduk dibelakang kursi sopir menatap kami bergantian.Sangat kentara sekali kerutan di tengah-tengah alisnya tanpa aku harus melihatnya.Menatap satu detik kepadaku dan satu detik lagi pada si laki-laki kecapekan.
Dan kami tidak peduli.Aku tidak peduli.
Tadinya ingin bergerak saja dari posisi diam yang merisihkan seorang ibu ini.Tapi aku geli sendiri.Memangnya kenapa harus bergerak.Kuputuskan untuk uji ketahanan.Kutebak si laki-laki kecapekan akan turun lebih awal dariku dan aku akan bergerak paling terakhir.
Tak lama si ibu turun.
Meninggalkan kami seperti penumpang eksklusive dengan posisi frustasi.
Kuterka dari posisi duduknya bahwa dia sedang capek.
Tapi posisiku pun sama sedangkan aku tidak sedang capek.
Kuterka dari raut wajahnya yang cemberut bahwa dia sedang banyak pikiran.
Tapi aku pun sedang cemberut namun tidak sedang banyak pikiran.
Ternyata memang tidak bisa dipukul sama rata begitu.
Kubuka tasku dan merogohnya untuk mengambil ongkos.Sejurus kemudian laki-laki itu bergerak merogoh kantong jeansnya.Ia berhasil mengambil perhatianku.
Kami bergerak berirama dan sejalan.
Aku merasa diikuti padahal pertamanya aku yang mengikuti.
Bosan lagi bermain pantomim.
Aku kalah oleh uji ketahanan yang aku buat sendiri.Aku bergerak kea rah pintu,mencari angin dan merasakannya di wajahku.
Tapi aku tak lantas kalah telak.Benar saja laki-laki itu turun lebih awal dariku.
Dan dalam perjalanan lima belas menit itu kami bertemu,tidak saling mengenal,tidak saling menyapa tapi kami berinteraksi.Aku menerka pikirannya dari gerak tubuhnya namun tetap tak terbaca karena tidak semua gerak tubuh bisa dipukul sama rata.
Aku tersenyum simpul pada diri sendiri.
Masih teringat perjalanan tadi.
Dan saat kaki telah kembali menapak di bumi.Kupacu cepat langkahku dua-dua.Sambil terus berusaha mengingat dan tidak sabar untuk mentransformasikan perjalanan malam ini dalam bentuk kode biner.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar