Welcome

Minggu, 27 Desember 2009

Cerpen 3

UJANG

Harusnya aku membuat cerita pendek saja biar tulisanku setidaknya ada yang selesai.Susah sekali untuk konsisten.Satu judul novel pun belum ada yang rampung. Bahkan sebenarnya belum banyak juga judul cerita pendek yang kuselesaikan.Aku belum berusaha cukup keras.Itu kesimpulan terbaiknya.
Mungkin memang benar kata Ujang.
Menulis itu tidak butuh berpikir.Tulis saja semaumu,lalu edit belakangan.
Bagaimana aku bisa percaya pada anak kecil dekil yang setiap hari dari pagi sampai petang selalu membawa sebuah kantong plastik yang sangat besar dengan sebuah tongkat bengkok dari besi dan pergi berkeliling perumahan sambil mencari sampah.Ujang si pemulung,aku memanggilnya begitu.Bahkan mungkin Ujang sendiri tidak tahu apa arti kata ‘edit’ yang di ucapkannya.Memegang komputer saja tidak pernah.

Tahun lalu saat mengikuti pertandingan tujuh belas Agustusan,Ujang berhasil menjadi juara ketiga lomba balap karung di RT-nya.Lututnya lecet saat bertanding karena terjatuh tapi wajahnya begitu senang walau hadiah yang diterimanya hanya dua buah buku tulis tipis,sebuah pensil kayu dengan tulisan 2B di salah satu ujungnya dan karet penghapus merek Pamer Kastil seharga seribu perak saja.Saat ia meraut pensil itu dengan serutan milikku yang dipinjamnya,aku tahu bahwa tulisan itu berbohong.Ujung pensilnya lunak dan tidak begitu nyata saat dipakai menulis,Ujang harus menekannya agak keras supaya tulisannya terbaca.Pastilah itu sebenarnya pensil HB.

Ujang dan aku sama-sama senang menulis cerita.Tapi aku menyimpan cerita-ceritaku,yang jarang tamat,dalam bentuk byte di dalam laptop pemberian Papa.Kalau Ujang,ia menyimpannya di dalam dua buah buku tulis hadiahnya tahun lalu.Buku itu semakin usang dan sudah mau habis halamannya.Pensil 2B palsu miliknya juga sudah pendek,panjangnya kira-kira tinggal seukuran jari telunjuk.Tapi hebatnya Ujang,sekali dia mulai menulis cerita maka dia akan selalu menyelesaikannya dan saat akan memberikan judul,Ujang selalu datang padaku dan memintaku memeberikan sebuah judul.
Kubilang padanya supaya membeli pensil baru saja dan juga sebuah penghapus baru karena penghapus miliknya sudah hilang entah dimana.Ujang biasanya menyelipkan buku,pensil dan penghapusnya ke kantong belakang celananya tapi suatu hari ia tidak berhasil menemukan penghapus yang tadi pagi ia masukkan di kantong.Sekarang di ujung pensil pendeknya ada sebuah karet gelang yang di ikat dan berfungsi sebagai karet penghapus.Ujang nyengir saja saat aku mencibir melihat penghapus barunya.

Aku kembali menatap monitor plasma di depanku.Kosong.
Padahal lombanya di tutup dua hari lagi dan aku sangat menginginkan hadiahnya utamanya,kupon seharga satu juta rupiah yang bisa kubelikan mainan sepuasnya.Aku sudah berangan-angan untuk membeli boneka Barbie keluaran terbaru lengkap dengan aksesoris dan baju-bajunya yang asli.Papa memang pasti mudah saja memebelikanku tapi kali ini aku tidak ingin dibilang anak manja.Walau alasan sebenarnya adalah karena aku sudah terlanjur mendarftar sebagai peserta,aku sudah bilang sama papa bahwa aku akan mengirimkan karya terbaikku.Aku tidak mau papa tahu kalau anak perempuan kecilnya ini ternyata belum menulis apa-apa.Aku akan sangat malu.

Esok hari lomba akan ditutup dan aku belum menyelesaikan satu tulisanpun.
Aku terduduk di sebuah saung di ujung gang sambil menahan tangis.Bagaimana caranya bilang ke papa bahwa aku tidak bisa ikut lomba karena tidak punya cerita untuk dikirim.Padahal papa sudah mengatakan bahwa aku ini anak kesayangannya yang membanggakan,aku pasti akan mengecewakan Papa.Lalu bau sampah menusuk hidungku,Ujang duduk di sebelahku dan menatap wajahku.Wajah Ujang coreng moreng lalu tersenyum.
“Ceritanya belum selesai juga ya,Adinda ?”
“Belum,Jang.” Aku masih menunduk.
“Ya udah,jangan sedih ya.Tulisan yang bagus itu datangnya dari hati.”
“Tapi nanti aku malu sama Papa kalu nggak jadi ikut.Lagian aku udah keburu daftar.Atau,Jang,gimana kalau aku pinjam tulisan kamu ?? aku bilang aja itu tulisan aku.”
Ujang cemberut.”Tapi hadiahnya buat aku !”
Gantian aku yang cemberut tapi lalu Ujang tersenyum.
”Tau nggak apa yang paling penting dalam tulisan kamu ?”
Aku menggeleng.
“Kejujuran.Papa kamu nggak akan bangga walaupun kamu menang karena itu karya aku.Nanti papa kamu bangganya malah sama aku bukan kamu.Dan tulisan yang jujur akan terbaca bahkan oleh hati.”
Aku diam.Ujang si pemulung yang tidak pernah sekolah memiliki hati yang tulus sekali.Aku tidak tahu dari mana kata-kata indah itu berasal.Walaupun aku sering menghinanya karena dia bau dan kotor tapi ujang selalu bilang kalau aku ini temannya dan sehabis itu aku pasti langsung mencibir dan menghinanya lagi dan Ujang hanya akan tertawa..

Aku meminjam buku tulisnya yang berisis semua cerita pendeknya.Aku berjanji tidak akan mengirimkannya atas namaku.Aku punya ide lain.

Lalu kuberlari kerumah dan mulai menulis.Tak peduli,aku menulis apa yang kurasakan.Menulis dengan hati yag jujur seperti kata Ujang tadi.Tidak lupa mengetik cerita Ujang juga karena aku berniat mengikutsertakan Ujang dalam lomba.Tulisannya terlalu bagus jika hanya disimpan dalam buku tulis usang.
Setelah selesai aku lalu berlari ke kotak pos untuk mengirimkan cerita pendekku.Akhirnya aku menyelesaikan satu judul pertamaku dengan kejujuran. Terima kasih Ujang.
Bukan Ujang si pemulung tapi Ujang temanku.
Teman terbaikku.
Aku yakin jika sudah besar Ujang akan jadi penulis hebat.

Lalu aku kembali berlari ke rumah,memecahkan celenganku,mengumpulkan isinya dan memasukkannya kedalam kantong plastik lalu kembali berlari lagi,kali ini ke saung dimana tadi aku bertemu Ujang.Kutunggu ia sampai sore saat ia pulang.Saat Ujang datang aku menggandengnya dan mengajaknya berlari kearah toko buku terdekat.Membelikannya beberapa buku tulis dengan kertas yang tebal,pensil 2B yang asli dan karet penghapus yang baru dengan semua uang tabunganku.Juga sebuah tas kecil untuk menaruh semua peralatan tulisnya.Ujang sumringah.Begitupun aku.Senang rasanya memeberikan yang terbaik untuk temanku.

Dengan pemberianku Ujang akan menulis dan melahirkan karya-karya kejujurannya yang sangat indah.

Dan cerita ini kukirimkan juga dengan penuh kejujuran dari hati agar bisa memberikan kebanggaan untuk Papa dan Ujang,sahabatku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar