Welcome

Jumat, 28 Mei 2010

Tugas Video

Video Klip Nike

Menurut pendapat saya tentang video klip Nike adalah dalam masalah apapun yang sedang dihadapi harus tetap optimis dan yakin akan kemampuan yang dimiliki oleh diri sendiri. Meskipun masalah yang dialami sangat berat, jangan pernah merasa putus asa. Dan selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik.



Video Klip Pepsi

Menurut pendapat saya tentang Video Klip Pepsi adalah walaupun kita sedang dihadapi masalah sesulit apapun, kita harus tetap berfikir secara jerni. Karena dengan berfikir secara jerni maka kita dapat berfikir secara positif.

Jumat, 07 Mei 2010

Tugas Resensi

Judul Buku : Batavia Awal Abad 20 : Gedenkschriften
Van een oud-kolonial
Penulis : HCC Clockener Brousson
Penerbit : Komunitas Bambu, Jakarta 2004
Tebal : xiii + 150 halaman

Tulisan ini pernah dimuat secara berkala di Bandera Wolanda, yang bertujuan mendekatkan kalangan militer Belanda dan untuk memperkuat sentimen kesetian dan kecintaan kepada Ratu dan Bendera Belanda (hal. vi). Brousson sesungguhnya hanyalah peramu kisah itu dan bukan si pengenalannya sendiri. Si pengelana, tak lain seorang bekas serdadu bayaran Belanda berinisial XYZ, yang mengirimkan catatannya ke meja Brousson agar bisa dimuat untuk khalayak pembaca harian yang bersikulasi cukup luas saat itu (Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Semenanjung Malaya). Apalagi harian ini juga dilanggan luas baik oleh Departemen Perang, Departemen Pendidikan, dan Peribadatan Umum, maupun Industri.

Setelah ulasan singkat dari penerbit memperkenalkan si Brousson, buku ini diawali dengan pengakuan penulisnya mengenai bagaimana hingga kisah perjalanan yang menyoroti aspek – aspek yang kaya dari Batavia tersebut muncul. Dikupas dengan penuh selera imajinatif, jenaka, naif, namun kadang menyentuh, tema – tema itu disusun dengan cerdik, memperlihatkan dengan jelas bentuk – bentuk gegar budaya mahadahsyat seorang Tentara Muda Belanda sejak ia masih di Amsterdam, kemudian menjajakan kaki di Tanjung Priok disusul dengan pengalaman – pengalaman mengesankan selanjutnya. Usaha pembaca mengoptimalkan seluruh pancaindera demi merasakan nuansa tempo doeloe mulai kehidupan di tangsi militer hingga pernak – pernik keunikan Batavia yang tak boleh terlewatkan, Kali Ciliwung yang sulit dipercaya, Glodok yang begitu hidup dengan pecinannya, tempat –tempat ibadah dan pelesiran Batavia yang kosmopolitan di abad baru, jelas dengan demikain dapat terpenuhi.

Selain 10 tema yang menyoroti aspek kehidupan sosial – kemasyarakatan yang lengkap (militer, jaringan pos, transportasi, perhotelan, dunia hiburan, seni budaya di tempat – tempat paling menarik di Batavia), buku ini juga dilengkapi dengan halaman penutup mengenai catatan perjalanan sebagai bahan bacaan dan paduan wisata (hal 135) sehingga membuat buku ini berguna untuk panduan wisata Batavia masa silam. Apalagi di bagian akhir buku ini disediakan indeks (hal 146 – 150) yang memungkinkan pembaca memilih sendiri objek yang menjadi perhatiannya.

Lalu, bagaimana menempatkan buku ini ? Melihat ideologi harian yang memuat tulisan tersebut serta mengingat sang penulisnya, kisah perjalanan yang dihasilkan sebagai suatu produk kolonial yang subjektif, merefleksikan suatu proses perkembangan dari pengakuan atas wilayah Hindia Belanda (dalam hal ini Batavia) secara politik ke arah ekonomi serta penguasaan militer ke arah budaya. Sampai akhir abad ke-19, Pemerintah Kolonial Belanda mencoba berbagai cara untuk menghentikan dorongan – dorongan orang mengunjungi “ tropical Holland ” sehingga representasinya di dunia internasional begitu buruk. Di media masa internasional saat itu berita mengenai Hindia hanya dipenuhi oleh cerita tentang wabah epidemik, meletusnya gunung berapi, amuk, santet, dan perang antarpenduduk. Hampir tak pernah ditemukan berita mengenai tempat yang menarik di Hindia. Fenomena ini mulai berakhir sejalan dengan munculnya dorongan kuat perkembangan pariwisata modern sesudah Revolusi Industri di Inggris akhir abad 19, di mana arus kedatangan orang Eropa dan Amerika ke tanah – tanah jajahan tak bisa lagi dibendung.

Buku ini, mengingatkan kisah perjalanan yang tercipta antara tuan rumah dan sang tamu dalam konteks budaya populer jelas penuh sisi humanis dan kaya nuansa. Buku ini kiranya dapat digunakan oleh sejarawan budaya dalam upaya pemahaman atas proses – proses di mana bentuk – bentuk tradisional dan ingatan bersama kolonial. Meskipun cara pandang yang sangat colonial yang kadang tak adil (bila dibandingkan dengan, misalnya, cara pandang kalangan pribumi atau non – Belanda), penjelasan – penjelasan mengenai sang “ Ratu di dunia Timur ” bernama Batavia di buku ini jelas dapat mengobati kerinduan atas pengalaman khas nostalgik masa kolonial yang pupus sejak kota ini berganti nama menjadi Jakarta.

Akhirnya, meskipun kita harus meminjam mata Brousson yang sesungguhnya sarat dengan ideologi Kolonial dalam kunjungan kita ke “negeri lain” bernama Batavia seperti tampak pada lembaran kecil ini penting karena menggambarkan situasi dan aspek – aspek kehidupan di pusat administrasi pemerintahan dan komersial Hindia Belanda awal abad lalu, yang di sana – sini masih memperlihatkan kesamaan dengan masa sekarang. Itulah sumbangan utama buku ini: memperkaya koleksi buku kita mengenai sejarah kota – kota di Indonesia masa Kolonial.
(kompas, 28 Maret 2004)